Kau tahu deoksiribo-nucleic acid, kawanku? Seumur hidup aku dikutuk oleh si dobel heliks itu. Terlaknatlah anasir keparat itu, kawan! -- begitu kesahnya padaku, dulu, bertahun silam.
selama ini, maksudku mula-mula di sepanjang hidupnya, ia pandai merangkai mimpi. Ia lihai menulusupi lorong-lorong imajinya. Ia mahir mengutak-atik pikirannya. Tapi apa lacur, bahkan tiap bagian diri kita kerap berkhianat—mengkhianati diri kita sendiri, tuannya. Persis uang dan teknologi yang pada mulanya dicipta buat melayani kehidupan manusia, mempermudah hidup kita, apa lacur di kemudian hari, saat ini, justru menjelma tu(h)an bagi umat manusia sendiri. Kita dikhianati, diperbudak, oleh hasil kreasi kita sendiri. Ya, begitulah. Ia yang semula mahir dan lihai mengutak-atik imajinya, selanjutnya justru dikhianati, diperbudak, oleh imajinya sendiri. Bedebah hidupnya! Ia muak.
Tapi berhentilah sampai di sini menyimak ceritaku ini. Kecuali bila kau sanggup menahankan ngeri di hatimu, jika kau mampu menanggung miris pada kisah yang kutuliskan ini, tak mengapa; kau boleh terus simak catatan ini sampai butir kata paripurna.
Ya, malam itu, tepat saat purnama utuh di warsa kelimabelas bulan Suro, ia bergegas ke luar rumah menuju kompleks pekuburan di kampungnya. Di tangannya tergenggam sebilah belati dari baja hitam legam namun di tepian salah satu sisinya nampak putih mengkilat tersinari cahaya purnama—pertanda tajam sangat. Aku buntuti persis di belakangnya, sejarak tak kurang sepuluh meteran. Sesampai di pekuburan itu, yang senyap dan menebar aura magis lebih-lebih karena saat itu adalah malam Jumat, aku tak berani mengikutinya lebih jauh. Aku berhenti di luar pagar yang setinggi dada orang dewasa. Sambil berdebar-debar dadaku, aku tunggu-tunggu apa yang hendak diperbuatnya di dalam kompleks pekuburan. Beruntung ia tak tahu aku sedang memata-matainya, sehingga ia bisa bebas berbuat sekehendak hatinya. Oh, ia berhenti di bawah sebatang pohon kamboja, persis di atas nisan tua. Ya, aku ingat persis, nisan itu adalah milik si mayat yang dikubur tak kurang duapuluh warsa silam karena digerogoti usia dan dikhianati lambung dan jantungnya: tetanggaku, mbah Rewok namanya. Aku ingat jelas, karena dulu aku ikut mengantarkan jenazah itu. Usiaku saat itu lima tahunan. Ya, saat itulah aku mendapatkan pengalaman magisku, atau pengalaman aneh, untuk pertama kalinya. Perlu kuceritakan sedikit: Saat itu aku merasakan sensasi tenggelamnya kesadaran; pikiranku seperti mati rasa; dalam alam sadarku kudapati kenyataan yang gelap, hitam, persis keadaan di lorong gua tanpa setitik pun cahaya. Aku sempat mengira bahwa aku akan lekas—atau memang telah—mati, menyusul mbah Rewok yang kuantarkan jenazahnya pagi hari sebelumnya. Pengalaman aneh itulah yang kemudian mencetuskan kedekatanku dengan sesuatu yang tak terjangkau nalar-rasioku: ya, sebut saja “Tuhan”. Tapi kedekatan tak selalu melahirkan kemesraan hubungan. Sering aku mengumpat dan mencaciNya tatkala aku merasa tak berdaya menghadapi kejam dan kelamnya kehidupan. Ya, aku menjadi sedemikian tergantung pada Tuhan; dan marah lalu mencaciNya kala aku merasa tersakiti oleh dunia. Baiklah, kembali pada ceritaku tadi. Ia berdiri di atas nisan mbah Rewok. Pisau hitam yang mengkilap di salah satu sisinya itu ia angkat persis setinggi keningnya. Tegak lalu ia rubah pegang dalam posisi miring, segaris dengan keningnya. Sejurus kemudian, tanpa ritual apa pun, ia sayatkan sisi belati yang mengkilap itu tepat di tengah keningnya. Melingkar sayatan itu, mengeliling di tengah batok kepalanya. Darah pun mengucur deras, merah kehitaman dan kental. Aku tak kuasa menahankan kengerianku saat itu, dan celakanya aku juga tak cukup nyali buat merintangi tindakannya malam itu. Maka aku memandanginya dengan tatapan nanar sambil tanpa sadar menggigiti jemari tangan kananku. Kulihat darah masih mengucur deras tak kunjung tandas dari luka sayatan. Dan selanjutnya ia tarik irisan kulit kepala bagian atasnya. Ia singkap kulit kepalanya saat darah masih belum kunjung tuntas juga. Ia mungkin tak sabar menunggu hingga tetes terakhir darahnya. Atau ia takut keburu lepas nyawa dari genggaman badannya. Sejurus kemudian, setelah berhasil mengelupas kulit separuh bagian atas kepalanya, ia merunduk. Ia mencabut batu nisan dengan sekuat tenaga. Jebollah batu nisan itu akhirnya. Lalu ia pegang dan angkat batu itu dengan tangan kanannya. Ia angkat setinggi kepalanya. Oh, sekerjap kemudian ia keprukkan batu itu menghantam batok kepala yang telah ia kuliti dan masih meneteskan darah merah kehitaman kental itu. Ia keprukkan bertubi-tubi hingga batok kepala bagian atas itu pecah dan otaknya menghambur hancur terkena hantaman batu nisan. Lalu ia punguti sebagian serpihan otaknya yang jatuh ke tanah. Ia lemparkan remah-remah otaknya yang hitam kemerahan dan masih berbalut darah segar itu ke segerombolan burung pemakan bangkai yang sedari tadi menyaksikan perbuatannya dari dahan kamboja sepelemparan batu dari tempatnya berdiri. Aku bertanya-tanya dalam hatiku, kenapa ia tak kunjung mati. Dan tak perihkah luka-luka di kepalanya itu. Tapi tak terlalu lama kemudian, tak terlampau lama berselang setelah tanya penasaranku tadi, tubuh itu pun lunglai dan lantas roboh ke tanah, meringkuk tepat di atas nisan kuburan mbah Rewok. Dan tak pelak lagi, burung-burung pemakan bangkai itu, yang sedari tadi sudah tak sabar menunggu momen ini, akhirnya menghambur dari persembunyiaannya dan merayakan pesta atas mayat yang masih segar itu. Tak berminat menyaksikan pesta-pora sekawanan burung itu, aku pun bergegas pulang. Di sepanjang jalan pulang, sembari masih terngiang dalam lapis-lapis ingatanku pada momen kematian seorang yang merasa telah dikhianati oleh keliaran pikiran dan imajinya sendiri itu, aku bertanya-tanya dalam hati: kenapa Tuhan bisa sedemikian dingin dan tega dalam menuliskan takdir kematian seorang hamba—jalan kematian yang sedemikian sadis dan tragis itu...
Dan di sepanjang jalan pulang itu pula, airmataku memburai tanpa dapat kutanggungkan lagi; airmata ratap atas kejam dan kelamnya dunia dan kehidupan ini...
dalam titimangsa mana pun dan kapan pun,
dunia dan hidup tak pernah jeda dari paradoks dan ironi;
tak pernah koma dari utopia yang direka-reka umat manusia
dan tragedi yang datang melantakkannya...
dan tuhan pun terendap dalam duka-lara manusia
--dalam lakon sandiwara dunia...
Requiem!!!
.
..
...