Selasa, Desember 16, 2008

hidup seumpama buku

Hampir semua penikmat novel pasti kenal nama Sidney Sheldon. Tapi agaknya tak banyak yang tahu bahwa novelis masyhur itu, yang buku-bukunya jadi best-seller di mana-mana, pernah berniat bunuh diri. Dan itu terjadi jauh hari sebelum ia jadi pengarang tenar seperti saat ini.

Sang ayah, saat memergoki Sidney muda yang hendak mencoba bunuh diri, berkata: Sidney, aku tahu engkau tengah putus asa. Tapi tidakkah kau tahu, hidup tak ubahnya sebuah buku. Saat kau tengah mendapati kisah buruk di dalamnya, janganlah tergesa-gesa untuk menutupnya. Kita tak pernah tahu kelanjutan ceritanya hingga kita tuntas membacanya.

Dan Sidney muda pun mengurungkan niatnya untuk bunuh diri.

Kalimat bertuah sang ayah itulah rupanya yang turut mengubah arah hidupnya. Kita bisa bayangkan, bagaimana bila Sidney muda tergesa-gesa menutup “buku”-nya sebelum menuntaskan hingga “halaman” terakhirnya, tentu tak akan pernah kita dapati namanya tertoreh di antara deretan buku-buku sastra berkelas dunia.

Dan bila hidup adalah sebuah buku, saya ingin buku itu adalah buku puisi. Karena, anda telah paham tentunya, puisi selalu menyimpan misteri di dalam dirinya; ia senantiasa menawarkan tafsir yang beraneka-ragam dan bebas kepada tiap penyimaknya –bukan seperti buku ilmiah yang baku, kaku, dan garing.

Ayah Sidney benar, hidup memang tak ubahnya buku…[]


senggama hujan

[what the hell uu app!]

Di luar, hujan tumpah meruah. Selaksa langit sedang menyenggamai bumi. Mengguyurkan segenap rindu dalam persetubuhan menderu-deru, bergolak penuh nafsu.


Kuhampiri tubuhmu kekasih, di atas ranjang biru

penuh rindu. Kukuliti tubuhmu dari busanamu

satu per satu. Kucumbui keningmu, pipimu,

bibirmu, dengan syahdu jiwaku. Kukecupi lehermu

bersemu merah. Kujilati buahdadamu dan sekujur tubuhmu,

dengan nafas menderu memburu. Dan kau mendesah

dirajah gairah, memerah. Lalu kau bimbing zakarku

masuk lembut perlahan ke dalam guagarbamu.

Engkau pun mendesah dalam tiap hentakan

pelan penuh nafsu. Juga aku. Kita hayati tiap

hentakan, tiap gesekan berlumur kenikmatan. Selaksa

tangan lembut sang ibu mengelus penuh kasih

tubuh si bayi. Lalu kau mendesah panjang, mengerang

mengejang, merapat memeluk tubuhku erat-erat.

Zakarku terlumat nikmat garbamu. Dan aku pun

menyusulimu dengan erangan kenikmatan, dengan

cairan kehidupan memancar memeluk dinding

peranakanmu. Hangat, katamu dengan syahdu.

Lalu kau lepas pelukanmu di bidangdadaku.

Mari kita ulangi sekali lagi, pintamu.

Mengapa tidak, jawabku.


Dan aku pun serasa lupa pada segala kesakitanku, pada semua sumpah-serapahku terhadap hidup –selaiknya tumpahan hujan mengobati dukalara pepohonan nan ranggas disiksa kemarau panjang.

Kau, masihkah peduli padaku?

dinihari 16 desember 2008

memelukmu eratlekat dalam khayalanku

kenapa kau begitu jauh tak terengkuh…


Jumat, Desember 12, 2008

tangisan hujan

:: show me the meaning of being fallen


Sore ini hujan tumpah tak terlampau deras. Tapi, selalu saja saya terobsesi padanya, seolah ia peri yang datang membawakan seribu mimpi kepada seorang anak manusia yang senantiasa dihimpit rasa sakit. Semasa kecil dulu, saya selalu tumpah-ruah di jejalanan desa, kadang bersama rekan-rekan sepermainan, kadang sendirian, membentangkan kedua tangan, menengadahkan wajah menantang langit, berkomat-kamit membuka-nutup mulut, mencumbui hujan... Selazimnya anak kecil, saya selalu tak peduli pada akibat dari segala perbuatan. Tak peduli sehabis berpuas diri berdekapan dengan hujan, tubuh akan diserang gigil, sering malah terserang demam berkepanjangan. Kepuasan, bagi anak-anak, mungkin lebih berharga bahkan dari sekedar nyawa sendiri. Maut seolah cuma bualan atau khayalan yang didongengkan para pesakitan dan lansia jompo, sementara kepuasan sungguh perkara yang tak bisa ditunda-tunda. Maka selagi badan sedang tak tergolek karena sakit, saya serasa tak ingin terpisahkan dari berdekapan dengan hujan. Saya selalu menunggui saat-saat menjelang turun hujan di selasar rumah, dan selanjutnya menghambur ke jejalanan begitu butir-butir pertama air hujan berlesatan menusuki tanah. Riang bak menyambut piala kemenangan, rasanya.


Tapi tidak lagi, semenjak saya menyadari bahwa diri bukan anak kecil lagi, setidaknya untuk sore ini. Tubuh dan jiwaku terasa nyeri, perih, bahkan saat dalam bekapan hujan...


Di senja kali ini, mataku berkaca-kaca, namun tetap kupaksa untuk menikmati hujan dari balik kaca naco jendela rumahku. Ada bulir-bulir air yang hendak tumpah dari dua kelopak mata, namun kucegah. Terasa ribuan bayangan masa silam, masa kecilku dulu, berhamburan satu per satu dalam ingatanku, selaiknya parade gambar (slide show) di layar komputer. Betapa aku terpesona pada mulanya. Namun pesona itu sedetik kemudian berganti kegetiran saat kusadari posisiku, siapa diriku, saat ini. Betapa manis masa silam, betapa remang hari sekarang. Ibarat harus membentang benang di antara puncak dan jurang, aku mesti kembali mendaki dengan hanya berpegangan pada sehelai benang yang nyata namun rapuh. Bila putus di tengah pendakian, aku akan makin terkubang di dalam jurang dan mau tak mau mesti mempersiapkan batu nisanku sedini mungkin. Begitulah, semenjak kecil kubangun mimpi-mimpi, bata demi bata, dengan telaten. Dan kau tahu, kini mimpi-mimpi itu runtuh perlahan, menimbunku, mengubur diriku dalam ketidakberdayaan.

Lalu aku menghambur ke luar menuju pekarangan belakang rumah. Kemudian kuambil posisi duduk berjongkok di bawah pohon kelapa, merasakan bulir-bulir air hujan yang menetes perlahan dari pepucuk dedaunan, membasahi sekujur tubuhku. Pandanganku tertuju pada segerombol pohon bambu yang dedaunannya mulai menghijau di musim penghujan kali ini, namun tatapanku kosong selaksa tak bersukma. Bayangan akan hari silam masih menyeruak memenuhi kepalaku. Makin pahit rasanya hidupku di senja ini biarpun sedang dalam dekapan hujan. Makin perih sakit itu, makin muak aku pada pilin-pilin takdir yang pelan-perlahan melumatkan hasrat hidupku.


di rembang petang aku menunggu hadirmu

sebait lagu tlah kupersiapkan buat menyambutmu

tak lupa kutitipkan sehelai suratku pada sekawanan kelelawar

barangkali mereka menjumpaimu di tengah perjalanan

mengarungi malam

takut bila kau tak lekas datang...


Hingga tanpa terasa senja telah meremang di ambang petang. Mungkin usiaku sendiri juga telah meremang petang, biarpun baru setahun kemarin rasanya kutiti masa remaja dengan perasaan gamang menatap hari depan. Kalaulah bukan usiaku, mungkin jiwaku yang terlampau cepat mengaus mendahului tubuhku karena terlampau banyak beban memberati hidupku. Oh ya, perlu kuberitahukan kepadamu, sedetik lalu telah kuputuskan untuk menghancur-leburkan puing-puing mimpiku yang telah rubuh itu dengan cara mengremasinya tanpa harus ada serangkaian upacara dan lantunan mantra serta doa, lantas kularung abunya ke laut lepas. Sebulan sebelumnya juga kuputuskan 'tuk melakukan hal yang sama pada sebuah berhala usang di dalam pikiranku yang sering kusembah dan kusebut “Tuhan”. Kini aku tak lagi punya apa-apa. Itu berarti aku juga bukan siapa-siapa lagi, di depanmu, juga di hadapan kehidupan. Aku, persis kata Chairil, “hilang bentuk, remuk!”


Maka inilah satu-satunya tempat kau dapat menziarahiku, mengenang impianku, sukacitaku, dukalaraku, kenaifanku, kelucuanku, kelancanganku, kesilapanku, dan segala yang pernah kutumpahkan dalam barisan aksara dan tanda baca, hingga kau bisa melupakanku dalam hari-harimu. Dan, bila kau sudi, cumbui arwahku yang nelangsa dalam tiap butiran hujan yang mengusap lembut keningmu, pipimu, dan bibirmu... Aku senantiasa ada dalam hujan, dalam tiap momen ke-jatuh-an...


ambangbatas 11 & 12 desember 2008

susah sungguh melupakanmu penuh seluruh

kau senantiasa ada dan manja...



Selasa, Desember 02, 2008

mati

Bisa jadi hidup ini memang tak lebih dari sekedar sandiwara, atau bahkan lelucon, belaka. Bila tidak, mengapa orang tetap tak kehilangan selera humor bahkan di depan tubuh si mati?

Di pekuburan, pagi ini, saat mengantarkan mayit seorang tetangga yang mati dinihari tadi, saya dan orang-orang seperti tak merasakan kengerian sama sekali. Puluhan orang malah nampak saling bersendagurau dalam kelompok-kelompok kecil di tempat yang dulu dianggap sakral itu. Saya sendiri tak urung juga ikut bergabung dalam salah satu kelompok, turut bersendagurau, juga bergelaktawa, sembari menunggu sekelompok orang yang menguruk si mayit di liang lahat selesai, untuk kemudian disambung dengan ritual pemanjatan doa bagi si mayit oleh seluruh hadirin dipimpin seorang tokoh agama setempat.

Ada apa dengan kematian? Saya sendiri tak tahu, sebagaimana saya tak paham apa sebenarnya makna dan tujuan hidup manusia di alam fana ini. Saya cuma berpikir, jangan-jangan memang tak ada yang sakral sebenarnya dalam hidup ini, termasuk juga dengan kematian. Kematian, agaknya hanya menyisakan duka bagi para anggota keluarga terdekat karena sebuah kehilangan. Bagi orang lain, serasa tak ada yang perlu ditangisi, atau setidaknya ditakuti, dari sebuah momen kematian.

Siti Jenar, si “waliyullah” yang didakwa “murtad” oleh Sunan Kudus dan penguasa Demak Bintoro di abad keenambelas itu, menyebut kehidupan sebagai “alam kematian”. Hidup sejati, dalam ajaran Jenar, adalah hidup sesudah kematian: Saat ruh telah terbebas dari penjara tubuh. Sebuah ajaran yang ganjil, tentu saja, bagi kebanyakan manusia.

Tapi ajaran Jenar memang tak bisa dipahami secara harfiah. Kita tahu, bahwa manusia, dengan tubuhnya, adalah seonggok materi. Dan setiap materi mengandung energi. Dan kita juga tahu, energi bersifat abadi (ingat tentang Hukum Kekekalan Energi). Energi tak bisa diciptakan ataupun dimusnahkan; ia hanya bisa berubah wujud. Minyak yang dibakar menghasilkan kalori/panas, cahaya/api, dan zat sisa-sisa pembakaran. Demikian pula dengan kehidupan tubuh manusia. Tatkala tubuh mati, ada substansi yang terlepas darinya, yakni ruh, yang bersifat abadi. Maka, kematian, bisa jadi, memang tak ubahnya “berpindah alam” semata: dari alam material yang kasatmata menuju alam immaterial yang gaib adanya. Tapi bagaimana atau seperti apa hukum kehidupan di alam setelah kematian, tetap menjadi sebuah terra incognita, tak satu pun dari kita yang tahu pasti.

Namun setidaknya, bila mengingat segala penderitaan manusia adalah bersumber dari tubuhnya, maka kematian, momen saat ruh berpisah dari tubuh itu, memang tak selayaknya ditakuti. Ia bisa jadi justru momen indah yang mengantarkan manusia pada kehidupan tanpa derita (karena ketiadaan tubuh yang semula menyertainya).

Seperti di pagi nan cerah hari ini, sendagurau dan gelaktawa para pelayat di tanah pekuburan saat digelar prosesi pemakaman bagi si mayit tetangga itu, makin meneguhkan keyakinan saya bahwa kematian bukanlah momen sakral dan mengerikan sebagaimana dulu saya dapatkan gambarannya dari cerita-cerita buku agama.

Tapi bila benar kematian bukan lagi momen menakutkan, mungkin hidup ini sendirilah yang sebenarnya justru tarasa mengerikan.

Entahlah...[]


menangis

-hidup yang makin terasa absurd


Sebenarnya, saya ingin menangis untuk segala kesakitanku. Tapi aku ragu, sanggupkah airmata, dalam jumlah meruah pun, menghapuskan sumber segala laraku. Aku bertanya-tanya, layakkah hidup disebut sebagai sebuah anugrah bila yang ada hanya derita tanpa sudah. Masih patutkah hidup disyukuri, dan “Tuhan” diimani untuk selanjutnya disanjung-puji dalam tiap sembahyang serta untaian doa, saat yang tercecapi hanya pahitnya rasa di sekujur usia.


Membicarakan hidup, membincangkan “Tuhan”, dan menguraikan derita ke dalam kata-kata, mungkin hanya akan menghabiskan terlampau banyak energi yang sayangnya akan berakhir sia-sia belaka. Tapi hidup bisa jadi memang tak lebih dari menjalani segala kesia-siaan guna melupakan kesakitan kita yang akan makin terasa sakit apabila kita hanya berdiam diri laiknya berhala. Kau boleh bandingkan hidupmu, yang riuh dan hiruk-pikuk oleh segala rupa aktivitas, dengan hidup para pesakitan, para pengungsi korban keganasan alam atau peperangan, ataupun orang-orang yang terlahir lumpuh dan menghabiskan sepanjang hayatnya dalam ketidakberdayaan. Kau akan dapati betapa segala kesibukan tubuh dan pikiranmu, lepas dari betapapun absurdnya hidup ini sesungguhnya, membuat hidupmu masih jauh lebih beruntung: kau bisa melupakan kesia-siaan hidup ini dengan segala kesibukanmu; kau tak lagi sempat menyadari betapa hidup ini mungkin cuma sandiwara kosong belaka (Siddharta menyebut hidup sebagai kasunyatan atau kekosongan, dan belakangan dengan metode Quantum dan Relativitas dalam Fisika ditemukan bukti yang seayun-sejalan: dalam aras sub-kulit atom, apa yang kita sebut sebagai “ruang” dan “waktu” tak lebih dari sebuah ilusi indriawi-dan-pikiran (tubuh) belaka).


Pertanyaan selanjutnya adalah, kenapa di dunia ini mesti ada makhluk yang sanggup mengalami evolusi fisik dan kesadaran yang, sayangnya, pada akhirnya membuat dirinya merasakan betapa susah dan tak adilnya hidup ini? Menjadi binatang, tetumbuhan, ataupun bebatuan, bukanlah sesuatu yang buruk. Tapi menjadi “binatang berkesadaran” (animal rationale, kata Aristoteles) adalah sebuah beban berat saat hidup tidak terselenggarakan di “surga” (terlepas seperti apapun persepsi kita tentangnya) melainkan di permukaan sebutir planet mungil (di antara benda-benda angkasa lain yang tak terbilang jumlahnya) dengan suasana yang menggetirkan dan dari hari ke hari makin terancam dan muram oleh tingkah-polah si “binatang berkesadaran” itu sendiri (dunia tak menjadi lebih buruk hingga muncul makhluk yang menakjubkan tapi sekaligus juga menyeramkan yang disebut “manusia”—si “binatang berkesadaran” itu).


Konon, menurut Sigmund Freud, penderitaan manusia datang dari tiga arah: (1) gerak-gerik alam yang tak sepenuhnya dapat ditundukkan, (2) tubuh yang memang fana, yang menjadi sumber kenikmatan sekaligus kesakitan, dan (3) hubungan dengan sesama manusia. Untuk yang pertama, sekedar sebagai contoh, masih segar dalam ingatan kita betapa ratusan ribu nyawa terampas putus oleh sapuan Tsunami di Aceh, dan ratusan ribu lainnya mesti melanjutkan hidup dalam nestapa dan trauma setelah keluarga dan harta-bendanya raib dengan cara amat mengerikan. Untuk yang kedua, segala rasa nikmat ataupun sakit hanya berasal dari tubuh, karena tubuh adalah satu-satunya media bagi segala pengalaman manusia (Heidegger menyebut manusia dengan istilah dasein—makhluk yang, karena tubuhnya, selalu ”ada-dalam-dunia”; Faucoult mengatakan bahwa tubuh adalah satu-satunya obyek bagi hukuman maupun represi). Selama masih hidup, tak satu pun manusia kuasa menghindar dari segala penderitaan yang bermuasal dari tubuhnya. Untuk yang ketiga, yang terkait dengan hubungan dengan sesama manusia, bisa dikatakan bahwa hubungan antar manusia, sepanjang sejarah yang kita ketahui, sama sekali tak bersih dari kesalahpahaman, penindasan, ketidakadilan, perang, dsb; singkatnya, tak bersih dari bercak noda dan darah. Makin banyak jumlah populasi manusia di muka bumi, makin rumit pula kehidupan ini bagi kita. Mengatur hubungan dengan dua orang, misalnya, tentu, bagaimanapun juga, akan jauh lebih gampang dibanding mengatur hubungan dengan dua ratus atau dua ribu orang (dan celakanya penduduk bumi saat ini telah melewati angka enam miliar!).


Kisah metaforis kejatuhan Adam dan Hawa yang diwariskan turun-temurun dalam kredo tiga agama arus-utama (Yahudi, Kristiani, dan Islam) setidaknya menegaskan bahwa hidup di dunia ini, tak lain dan tak bukan, memang “sebuah hukuman”. Biarpun tiga agama itu juga menegaskan bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang paling sempurna, paling istimewa, yang jadi “wakil Tuhan di muka bumi”, juga memaklumatkan bahwa hidup adalah sebuah anugrah, tapi ketiga agama tersebut juga tak bisa dengan entengnya mengaburkan makna tentang kisah metaforis kejatuhan Adam-Hawa yang dituturkannya sendiri itu (barangkali memang tak ada kumpulan teks yang isinya saling menyanggah, saling bertolak-belakang, melebihi apa yang kita sebut sebagai “kitab suci”. Dalam hidup keseharian, kita dapati bukti bahwa agama bisa menjadi “madu” tapi dapat pula menjelma “racun”. Banyak kebajikan yang terinspirasi ajaran agama, banyak pula angkara-murka yang dilegitimasi oleh teks-teks agama. Tak ada yang lebih membingungkan daripada apa yang kita sebut sebagai “sabda Tuhan”. Entah, seberapa penting arti agama bagi manusia di abad ini, saya tak begitu tahu).


Baiklah, mungkin gagasan yang kuuraikan berjalan terlampau jauh. Tapi, ya, gagasan! Itulah kata kuncinya. Manusia hidup dengan gagasan yang beraneka ragam. Dan gagasan selalu bertautan dengan pengalaman dan pengetahuan. Sebagai makhluk bertubuh dan berkesadaran, kita memang tak bisa luput dari pengalaman dan pengetahuan yang mencetuskan gagasan. Dan segala rupa gagasan, tentang apapun itu, tak ada yang absolut—segalanya serba relatif, tak ada yang pasti, sebagaimana kemampuan manusia yang dibatasi oleh tubuh, dan seperti halnya dunia yang tetap tak ubahnya terra incognita, “area asing”.


Mungkin karena itulah, ajaran-ajaran kebijaksanaan dari Dunia Timur, semisal Budhisme, Zen, Tao, dan Sufisme dari berbagai agama, menganjurkan manusia untuk melepaskan segala gagasan, segala pemikiran, mengenai hidup, dan menyisakan bagi hidup ini hanya penghayatan semata: merasakan kebersatuan/kemenyatuan diri dengan semesta raya yang maha tak terkira agungnya, bahwa manusia yang teramat kecil dan lemah ini juga bagian tak terpisahkan dari alam semesta yang tak terpermanai besarnya. Tapi, lagi-lagi, di zaman penuhanan rasio, ditambah lagi tafsir konvensional monoteisme tiga agama arus-utama yang juga rasio-sentris, tidakkah ajaran-ajaran kebijaksanaan itu tak lebih dari pepesan-kosong belaka untuk dipraktekkan dalam hidup sehari-hari?!


Barangkali, saya sebenarnya hanya butuh menangis untuk segala kesakitan saya, tapi sayangnya saya tak jua kuasa untuk meneteskan airmata. Maka lahirlah gagasan-gagasan yang berlalu –lalang di dalam kepala ke dalam catatan ini. Kita, bisa jadi, memang cuma perlu tawa dan tangis sebagai wujud apresiasi bagi hidup ini, karena hidup memang serba ambigu, tak pasti! Ya, menangis, sebagaimana tertawa, bisa mengendurkan otot-otot psikis yang sedang menegang oleh beban hidup dan kesakitan.


Saya cuma perlu tertawa dan menangis, seabsurd apapun hidup ini terasa…[]


Selasa, November 25, 2008

panteo - panhomo - pankosmo


[nothing but being]


(I)

dulu di pekatmalam yang mulai pudar

mengurai jadi pagi aku datang menghadapmu

mangajukan permohonanpermohonanku.

suara perih di batinku meminta padamu serasa

kau ada jauh di ujung sana. dan aku berurai

airmata seolah jarak adalah keterpisahan mutlak

antara kita. aku jadi terlampau memohon dan

kau terlampau banyak menuntut.

kemarin aku sempat bertanyatanya

siapa engkau siapa aku

mengenal dirisendiri pun aku tidak.

bagaimana mampu aku tahu siapa

adanya engkau di sana.


kini suara perih itu tak lagi memohon padamu

tapi membeku jadi batu. tapi mengapa

jadi batu, juga ada "dulu" dan "kini", padahal

ini ruang hanya ilusi indriawi

ini waktu cuma rekaan pikiran.

tidakkah kau dan aku satu

juga dia, mereka, dan segala

adalah satu sebagai semestaraya.


tak ada lagi kau dan aku juga mereka

tak ada penciptaan juga pemberhalaan

dalam penyembahan. tak perlu lagi

ada permohonan dan tuntutan.

semua lebur menyatu dalam

ketiadaan ruang dan waktu.



(II)

ada amarah tumpah di wajahmu merah. darah

meruap di keningmu di pipimu di bibirmu. di matamu

nyalaapi siap kaujilatkan pada udara tak berdosa.

kau marah pada tuhanmu dan aku termangu -membatu!

siapa, atau apa, yang kaueja namanya, kausanjungpuja

setinggi langittujuh dalam tiap sembahyangmu

dan lalu kaucampakkan dalam darah kemarahan yang

mendidih menindih saluran nafasmu.

(kepalaku mendidih ikut merasakan sesak kesakitanmu)


aku pun marah pada diriku sendiri melihatmu

marah -karna aku tak lagi punya tuhan.

kau tahu kenapa aku tak punya lagi tuhan? karena

ia telah jadi gagasan membingungkan, juga sekaligus

dingin membeku membatu memberhala dalam pikiran.

(sungguh menyesakkan!)


yang ada hanyalah "ada"...



(III)

aku di sini di tepi kali ini menunggu

sukmamu mengapung di air mengalir menyusul

tubuhmu yang telah sampai laut bermainmain

dengan ombak dengan badai menjauhi pantai

tapi kau tak lekas sampai sini

aku jemu menunggu.


ingin aku menjerit pada langit memohon

pada yang di atas sana tapi buat apa

karena aku ternyata sudah tak percaya tak berdaya

bahkan sekedar memerikan satukata

untuk kulesatkan dari tenggorokan dan lisan

ke udara. aku kehabisan daya untuk percaya

pada yang di atas sana yang tlah menjelma

berhala dalam kebimbangan dan kebebalan

pikiran.


biarlah aku pasrah menanti hingga

dagingku melepuh terbakar panas matahari

dan belulangku merapuh dimangsa usia

yang melaju terseret aruswaktu. dan

suatu masa mungkin kan kususul tubuhmu

dengan tubuhku sekalian melepas sukmaku yang

gelisah dan ragu pada segala janji...



- sometwilite @ november 2008




Senin, November 24, 2008

jejakmu di batu


aku tak tahu harus ke mana

kusembunyikan jejakmu. aku malu

pada hujan karena kau pernah ada di sini namun

kini yang tinggal hanya jejakmu.


andai kau dulu mengukir jejak di pasir

di pinggir pantai tentu ia akan lenyap tersapu

ombak. tapi sayangnya dulu kita berdua

mengabiskan waktu dalam pikiranku

yang membatu.


mungkinkah jejak di batu dihapuskan tanpa

merusakkan. ya, tak mengapa.

mungkin suatu waktu kupinta kau

menghapusnya dengan apapun cara yang

kau bisa. (mungkin dengan meremukkan

kepalaku)


aku cuma tak mampu menahan malu

di hadapan hujan karena kau tak lagi

bersamaku menyusuri waktu.

ah, kau aku batu...


-november twilight, 2008