Kamis, Juli 31, 2008

FUNERAL FOR A FRIEND

Ia telah lelah melangkah.

Ia jengah.

Ia kini berhenti meniti.

Hidup tak memberikan apa-apa selain bergurat-gurat luka.

Ia berusaha menangkap makna dari luka-lukanya namun tak jua kuasa.

Bahkan ia tak tahu apa itu cinta.

Bahkan kebenaran dan Tuhan pun ia tak kunjung paham.

Maka ia pernah berteriak.

Ia memberontak.

Tapi entah kepada siapa suara-suara paraunya itu ditujukan.

Sekali waktu ia merengek-rengek.

Lain saat ia meratap pilu.

Kadang juga terbuai mimpi…

Tapi kini berteriak ia tak lagi mampu.

Suaranya mulai memelan.

Lalu redam.

Batang tenggorokan dan ruang kerongkongannya telah mengering.

Semangatnya meluruh.

Asa demi asa yang coba disemainya dalam hidup bertahun-tahun kini telah ranggas.

Segala-galanya sirna.

Hidup dirasainya tak lebih sebagai sebuah ketiadaan yang menampak bayangan.

Serupa fatamorgana.

Tapi ia menderita banyak luka karenanya.

Dan ia lihat banyak manusia berebut ketiadaan itu.

Berdebat.

Berperang.

Atas nama fatamorgana itu.

Dan ia makin bingung.

Makin terluka oleh itu semua…

Ia menangis pilu…

Ia lelaki.

Ia selalu menempuhi jalan-jalan sunyi.

Dan petang hari di awal kemarau ini ia dikuburkan.

Tak jelas mengapa ia mati.

Yang kutahu ia kini telah pulang ke asal mula.

Meninggalkan dunia yang jadi pentas perayaan kehidupan…

Lalu pada batu nisannya kuusapkan duka-laraku.

Dan di atas pusaranya kutaburkan mawar merah bersama burai airmata yang tak kuasa kutahankan…

Penghujung Juli 2008

Dalam selingkuh nyata dan maya…

Senin, Juli 21, 2008

Go in Peace

Dini hari tadi, saya baca sebuah buku kumpulan naskah pidato seorang agamawan agung, gembala umat, juru perdamaian dan permaafan, dan tokoh dunia nan santun dan rendah hati. Dialah Paus Yohanes Paulus II.

Di tengah keresahan batin siapa pun, akibat paradoks modernitas yang mengebiri dimensi ruhani umat manusia, kalimat demi kalimat di dalam buku berjudul Go in Peace—yang didedikasikan untuk mengenang satu tahun wafatnya sang tokoh—itu terasa bak oasis di tengah gurun pasir bagi para pengembara yang dililit kehausan dan kekeringan. Tak terkecuali bagi saya yang sebelumnya dirundung gelisah akibat aneka problema yang menyergap pikiran dan menekan perasaan, membaca kalimat demi kalimat yang santun, tak sedikit pun memuat amarah dan caci-maki, jauh dari penghakiman, dan penuh dengan kebijaksanaan itu, tubuh saya seperti tersiram air nan dingin dan sejuk. Entah hanya untuk sesaat atau tidak, saya merasakan kedamaian jauh di lubuk batin ini. Lebih dari itu, yang tak kalah pentingnya, saya makin yakin: Agama bukan suara angkara murka, bukan teriakan penuh kutukan, bukan anjuran kedengkian, bukan syahwat kekuasaan, bukan darah dan amarah, juga bukan ajaran penindasan; ia adalah lawan dari itu semua. Agama adalah kasih-sayang: Rahmat bagi alam semesta seisinya.

Di tengah-tengah munculnya sisi beringas praksis keberagamaan zaman modern ini, sebagai reaksi yang melampaui batas atas ekses-ekses modernitas, pesan-pesan Paus itu menyadarkan kita semua betapa pentingnya kerendah-hatian dan kehati-hatian dalam memahami dan mengejawantahkan ajaran agama. Tanpa dua hal tersebut, agama justru akan jadi beban berat yang makin memperparah keterpurukan umat manusia.

Paus bernama asli Karol Wojtyla yang terlahir di Polandia pada 18 Mei 1920 itu tutup usia pada 02 April 2005 setelah 27 warsa memimpin Vatikan. Namun pesan-pesan yang disuarakannya itu tetap tinggal di dunia — dan terasa makin penting bagi kita semua..[]


di ambang mentari pagi, 21 Juli 2008



Sabtu, Juli 19, 2008

Monologika Gila

Aku pandangi perempuan gila yang duduk di atas meja kaki-lima. Saat senjakala turun di kota. Kemarin. Ia seorang diri. Aku pun sendirian. Lihatlah wajahnya lusuh. Tubuhnya juga. Busana koyak-moyak. Seperti sehabis diperkosa. Tapi siapa tega memerkosa si gila. Kenapa pula si gila rela. Ough.. Lihatlah: dari selangkangannya mengalir darah merah. Tetapi pucat; tak segar. Menstruasikah ia. Tapi kenapa si gila juga punya haid. Ohh.. Apa sebenarnya hubungan tubuh dengan jiwa. Ketika jiwa telah gila, tak lagi punya kehendak napsu, kenapa tubuh tak ikut gila; tak ikut-ikutan menanggalkan kehendak; tak melepaskan keinginan meluruhkan darah kegagalan pembuahan. Kenapa tubuh masih waras, tak edan. Padahal jiwanya telah gila.

Ohh.. Lihatlah perempuan gila itu. Ia menyeringai. Tapi kepada siapa. Kepada benda-benda di depannya-kah. Ia tak menyadari darah merembes dari liang vaginanya. Ya. Kenapa vaginanya itu tak ikut-ikutan jadi gila. Kenapa masih meluruhkan darah menstruasi saat jiwa yang menubuh di dalamnya telah jadi gila; telah tak punya lagi kehendak.

Lalu di mana Tuhan. Di mana Tuhan. Tapi apakah Tuhan bagi si gila. Apa pulakah vagina bagi si gila. Apakah tubuh. Apakah ruh. Apakah dunia. Bagi si gila. Juga bagi kita semua. Ohh.. Sedang duduk di atas ArasyNya-kah Ia. Ikut-ikutan memandangi si gila-kah Ia. Astaga. Kenapa aku menganggapNya laiknya seorang penonton ataupun wasit dalam pertandingan olahraga. Takkah Ia hadir di mana-mana. Takkah Ia menyatu dengan segala ciptaanNya. Takkah Tuhan menubuh pada dunia. Sebentar! Jangan terburu menuduhku musrik. Aku tak bermaksud menyamarupakan Tuhan dengan benda, dengan dunia, dengan segala ciptaanNya. Tuhan tak sama dengan semua yang kita lihat. Ia bukan yang tertangkap indra dan kesadaran kita. Tuhan adalah Ketiadaan bila yang kita sebut “ada” adalah yang terjangkau panca indra dan kesadaran. Tapi Tuhan juga tak beristana di langit atau di surga. Ia tak memisahkan diri dari dunia. Ia menubuh pada dunia, pada segala ciptaanNya. Juga pada si perempuan gila itu. Juga pada vaginanya. Tapi Ia bukanlah si perempuan gila. Bukan pula vagina si gila. Oh. Kau menuduhku gila karena menistakan Tuhan dengan menganggapNya bersemayam dalam vagina. Tapi apakah vagina. Apakah selembar daun. Juga sebutir debu. Juga noda busuk. Takkah semua itu juga ciptaanNya. Lalu kenapa kau anggap hina vagina. Takkah pikiranmu sebenarnya yang kotor dan picik. Hingga kau tuduh aku menghina Tuhan.

Ohh.. Astaga.. Lihatlah! Buncahan daging di dada perempuan gila itu mengempis. Kenapa payudara itu melenyap. Dadanya kini rata. Ada apa ini. Lalu bagaimana dengan vaginanya. Ikut melenyapkah. Tapi apa arti payudara bagi ia yang gila. Apa pula arti vagina baginya. Apa arti vagina dan payudara bagi Tuhan. Apa pula artinya bagiNya bila keduanya telah tiada. Apakah manusia sebenarnya. Apakah pria. Apa pula itu wanita. Pria adalah berpenis. Wanita berpayudara dan bervagina. Hanya itukah. Lalu apakah dunia. Lalu bagaimana dengan perempuan gila itu. Tak wanita lagikah ia. Karena payudaranya telah lenyap. Juga mungkin vagina di balik busana lusuhnya. Tapi berganti peniskah vaginanya. Lalu apa artinya penis bagi si gila. Apa artinya menjadi lelaki baginya. Ketika jiwanya telah terbebas dari belenggu segala kehendak. Juga ketika ia telah terbebas dari napsu bermain kelamin dengan orang lain. Apa artinya penis atau vagina. Apa artinya menjadi lelaki atau wanita bagi si gila. Masih pentingkah itu semua. Lalu bagaimana dengan Tuhan sendiri.

Oh.. si gila itu kini berdiri. Ia bukan lagi perempuan gila. Mungkin pula bukan lelaki gila. Ia hanya manusia. Hanya si gila. Ia melangkahkan kaki. Menjauh. Menghilang dalam malam yang mulai turun. Dan aku.. Aku masih digelayuti peristiwa yang kulihat tadi. Pikiranku disergap tanya berkeping-keping..

19/07/’08

Senin, Juni 30, 2008

Cerita Kereta

PAGI itu, di atas KA Sri Tanjung yang meluncur kencang bak meteor, menuju Jogja, seorang lelaki duduk di kursi nomor 24A pada gerbong ke-3. Sebuah buku di tangannya: bersampul krem berjudul Fateless. Pikirannya sekilas-lintas nampak khusuk menyimak kisah hidup seorang Yahudi Hongaria saat rezim Nazi-Hitler sedang mengganas di daratan Eropa. Namun saat pikirannya terlihat khusuk menyimak novel memoarik Imre Kertesz itu, hati si lelaki itu berkecamuk; batinnya bercampur-aduk, riuh, gaduh: berbagai rasa tumpah bermain di dalam dadanya, meruah-rekah..


Lelaki menginjak seperempat abad di atas kereta menuju Jogja itu nampak khusuk menyimak buku; namun perasaannya berkecamuk, bercampur-baur — oleh rindu dan kebimbangan pada seorang wanita yang telah mencuri hati dan perhatiannya..


=> Kereta, ya, kereta. Dalam cerita sinema Life is Beautiful, kereta adalah berita durja: ribuan Yahudi dimasukkan gerbong, berdesak-desak mirip ternak, lantas diluncurkan menuju Auschwitz. Di kamp kerja-rodi ala Nazi itu, maut jadi sedemikian dekat dan mengerikan; ajal jadi sesuatu yang banal...


Akhirnya aku sadar,

HIDUP adalah emulsi;

segala hal bercampur-baur, melebur:

suka bercampur duka,

tenang berbaur riuh,

yang fana bersatu dengan yang baka,

yang imanen berkelindan dengan yang transenden,

yang kudus bersanding noda,

kenyataan berpelukan dengan rekaan,

Dan aku pun turut melebur di dalamnya,

tanpa sisa …


Minggu, 29/06/08

di atas KA Sri Tanjung,

masih memikirkanmu...

ah, andai kau turut di sini,

bersamaku:

mengukir perjalanan

memahatkan kenangan…





Kamis, Juni 26, 2008

s a m b a l

[bila Anda pernah baca Cala Ibi, novel debutan Nukila Amal, saya yakin Anda tak bakal kesulitan memahami catatan berikut ini]


Es jus alpukat, saya paling tak suka. Sama enegnya dengan skripsi. Tapi cinta kadang cumalah sekerat roti—kadang basi, sering malah jadi santapan semut sebelum sempat mendarati mulut. Tapi semut lebih disiplin dari para serdadu. Semut tak punya jendral tapi tertib dan tak satu pun desersi. Tapi alangkah mahalnya hidup ini hingga banyak orang tak sanggup membeli. Namun siapa berjualan getah: di nangka ia dibersihkan karena mulut hanya mau manisnya belaka, tak sudi getir dan kotornya. Tapi kau tentu bilang itu manusiawi. Lantas bagaimana dengan perang dan aborsi, juga eksploitasi? Wah, betapa kambing selalu punya nasib tragis; ia dicabik, disayat, dan disate—dipanggang dalam bara yang mengangah merah, lebih tragis dari cerita neraka.

Tapi siapa berharap bersua malaikat, ia akan sekarat. Sama halnya bila kau sedang duduk diadili dalam ujian skripsi. Tak ada jus jambu kesukaanmu, tak ada madu tuk menggenjot stamina batin dan hatimu. Tak ada cinta, malah. Yang ada cumalah rindu: ingin kau segera keluar enyah dari sana dan bergegas menuju kaki-lima memesan segelas es degan plus madu penyejuk kalbu.

Konon sel itu tak lebih menyiksa dibanding penjara manusia bernama bahasa. Bila kau pernah tonton sinema garapan Innaritu berjudul Babel, pasti kau paham pada maksudku. Manusia terkotak-kotak dalam bahasa beraneka rupa. Tapi yang tak kuasa berbahasa, si gadis Jepang yang bisu itu, masih dalam cerita film Babel, juga tak kalah menderita dibanding yang sanggup berwicara. Yang punya bahasa serupa pun tak menjamin dapat hidup bebas tanpa terpenjara. Buktinya, kita seringkali berseteru karena bahasa, karena bicara kita—termasuk akibat salah paham; salah dalam mencerna makna kata-kata lawan bicara.

Tapi saat ini ada yang lebih membuatku jengkel seribu empedu: skripsi yang seeneg buah durian. Mencium baunya pun dari kejauhan aku serasa mual, mau muntah. Tapi muntah kadang, atau sering malah, membawa berkah beruah-ruah. Karena dengan begitu kau bisa mengisi perutmu kembali dengan aneka kenikmatan duniawi. Ya, perut; kadang ia lebih rakus dari otak tapi tak lebih serakah dibanding mulut. Dan mulut, kita semua telah paham, ia menyemayamkan lidah di dalamnya; dan lidah itulah kerap menjalarkan api tragedi di dunia ini. Segala retorika dan ancaman tak akan lahir dari mulut yang tak berlidah. Dan lidah sendiri jadi liar karena ia memang tak bertulang—tapi ia suka bawang.

Dan orang-orang sejagat raya saat ini juga sedang dibuat jengkel: oleh minyak! Minyak memang jadi berkah tapi juga musibah. Seorang nenek renta rela seharian berdiri di bawah terik mentari demi mengantri minyak. Amerika menggelar ratusan ribu serdadu dengan bajet puluhan miliar USD demi menguasai minyak. Tapi jutaan orang jadi sasaran empuk bujuk rerayuan iklan kosmetika karena malah ingin menghilangkan minyak (di parasnya). Asal tahu, sekarang minyak berdolar nyaris 140 per barelnya dan secepuk kosmetika pengusir minyak bernominal puluhan-ratusan ribu rupiah. Dan dunia ricuh karenanya, persis bila ada bau kentut di dalam ruang kelas tanpa seorang pun mengaku sebagai empunya. Ya, beginilah dunia pasar: selalu riuh selalu gaduh dan banyak orang mengaduh karena bangkrut hidupnya—semua karena bahasa.

Namun bila Anda pernah simak film Butterfly Effect, atau Anda pernah baca novel The Five Peoples You Meet in Heaven karya Mitch Albom, Anda akan tahu bahwa hidup adalah sebuah parade kejadian demi kejadian yang saling berikatan-berkaitan (istilah kerennya: ”jalinan koinsidensia”). Bahwa setiap kejadian akan memiliki konsekuensi bagi terbitnya kejadian berikutnya; demikian berlangsung bak mata-rantai yang tanpa putus. Maka pesan yang saya tangkap darinya adalah: bahwa takdir itu bukanlah mitos adanya; ia nyata; dan jangan sesekali kita meratap-sesali segala yang telah terjadi bila tak ingin terjebak dalam infatuated imaginations seperti dialami si tokoh protagonis dalam kisah Butterfly Effect itu.

Ilmu pengetahuan, selidik Michel Foucault, selalu berjalin-kelindan dengan kekuasaan. Begitu pun wacana; ia dipelihara lewat kuasa dan dipigura bahasa. Kecurigaan serupa datang pula dari Jacques Derrida yang penuh semangat memukulkan martil Dekonstruksi bertubi-tubi. Dan hancurlah segalanya.

Tapi omong-kosong dengan teori bila kita wajib memeluknya erat-erat. Kita punya dua kaki. Kau tahu apa maksudnya? Agar kita bisa berpijak pada dua matra kehidupan: realitas dan idealitas. Bila kau hanya memijakkan dua kakimu pada salah satunya saja, kau akan celaka. Dan tahukah kau kenapa kita punya dua tangan, dua belahan otak, dua telinga, dan dua bola mata tapi hanya satu mulut? Agar kita lebih banyak berbuat, lebih banyak berpikir agar jadi bijak, lebih banyak mendengar agar jadi pintar, lebih banyak melihat untuk selalu belajar, dan agar kita tak banyak bicara. Itu saja.

Maka jangan menikmati sambal dengan rasio-nalar pikiran; jangan mengungkapkan kelezatannya lewat bahasa; nikmatilah semata dengan hati, sebagaimana kau menikmati cinta yang tentunya tak sebatas sekresi kimiawi di kalenjar-kalenjar neurotransmitter di dalam batok kepalamu. Dan kau tak perlu mengungkapkannya pada siapa pun juga lewat bahasa. Ungkapkan semata dengan hatimu; itulah sambal… [?]

siang terik,

dalam kangen,

merindu wujud di dalam kalbu—kamu!

namun bila kau sangka aku lemah, kau salah.

aku menerjang karang menantang gelombang;

lebih baik berkalang tanah daripada kalah.

dan bila kau sangka aku bakal cemburu, kau keliru.

hatiku hanya rindu pada biru;

sedikit saja padamu!!!

yachh.. alangkah indah & kacaunya hidup…

bahkan kini,

saat pendulum berayun ke kiri,

ada nyeri di hati,

nyeri..

tapi aku tetap tersenyum;

terus tersenyum..

meski palsu,

walau semu,

tapi kunikmati,

kuhayati..

karena ku tak ingin kalah darimu;

tak ingin kau sangka lemah dan hendak nyerah..

namun aku telanjur padamu;

takkan mundur hingga belur dan lebur..

.

eagle flies confused..

……still free & alone……………….

Senin, Juni 23, 2008

the wor(l)d is not enough

:) to Nora Rz


Time and space are relatively, Einstein’s postulate. Yeah, I believe it. Seven years ago we’ve gone apart, since we had finished senior high school. Seven years felt so short, like no a second felt so long when I wait an answer in the clearly morning seven years ago, answer from you for my ask and question…


Argh, forget about it. Nor, still you remember a moment in the dawn has going on, while we spent our morning at Papuma beach, just you and I, seven years ago? Both you and I sent any smiles to the waves come one by one touching the shore line, sent any smiles to sunrise on east-face so far away. And we laugh together, rent the solitude beach…


In that time, we like a couple of white doves alighted on a tree branch. We make any jokes and flatteries in the beauty morning bathed by golden ray of sunrise and caressed with softly wind blews. We are living so free and joyful, felt no any sadness and sorrow. Yes, that morning feels like our morning only, just mine and yours…


And then we bathing our body and soul, we playing with waves. We’re like children have no sins, have no sorrows, have no pains, have no problems. We have joy and happy only. Yes, so beauty and captivated fully. I believe everybodies seen to us will felt so jealous and wanna be like us. Yes, that day is like ours only…


As teenage, we have so many dreams and hopes to sailing the future before us, and we never felt so regret with our past behind us. We just free and liberty. We just dream and carved every second in days with smile and optimistic views. We have no heavy duties would made us fall down…


Still you remember, Nor.. in that morning we playing sands and sown it to each other’s hair. We are so crazy and seem like the fool. And then we make a small temple using white-sands, and we just laughing while a wave comes, shatter our small temple. We just laugh, not sad. Have we known, in that day, that nothing eternal in this world, that everythings will be shattered and broken, even often easily, just in a second or a minute only? Yes, may we have any awareness, eternities are in heaven only, and we believe it absolutively… … …


Now, in this night while I make this note, I feel that moment just passings by, like a minute ago, whereas it was seven years ago. This is named Einstein as ”relativity”. We are, mankind creature, have the mind or soul. It is fourth dimension, just mankind have it. In this case, relativity is caused by fourth dimension we have. It’s made us being so different absolutively beside others creature in this world…


Gosh, why I speak about Einstein? But I think you also like to mister Einstein. Both you and I like with physics, especially in chapter Duality of Light. Yes, light is entity has dual character: as a wave and as a particle. But, don’t you ever think that mankind have dual character too: as devil and as angel? Yes, mankind are creature between angel and devil. And human is most perfect creature, beyond other creatures…


Back to Einstein. He ever said, ”dark is a condition while the light is absent. Evil is a condition while ’God’ is absent. And hatred is a condition while the love is absent.” And I am agree with him, absolutely. So beautifully this life if everyone always fulfil with light, divine, and love…


Now, I just a confused-man, fluster to make any decision, confuse to take any step toward. Even I feel so bewildered while meet you in library, a month ago. Yeach, I spontaneously remember all my memories in every time we spent together. Everything will be beauty when became memories, someone’s said. And I agree. Everything feel so illuminate in my mind: all memories with you many years ago, while we’re same as student of senior high school; we’re ”the most unusual pupils,” once our friends said. I didn’t know what they mean…


Nor, whatever was passing by, whatever was happened in everytime we’d spent together, including every worst both you and I ever made, I wish it never will make me turn to past, so do you are. Yeah, I know, so many things changed, so many things lost, so many new things born, but memories are memory. Memory is “life was died” and we can not make it wake up, we can not make it alive again. Let it stay silent in our mind, slant our life to the illuminating future in each our way…


The last, Nor. I know, every word is never enough to describe everything within heart. So do the world is. It never be enough as a cup where we will pour out all within heart. So maybe this note is not enough to show all in depth my heart up. But, when the world is not enough, I turn to word. And I wish these words can make you satisfied, though not enough…


Happy 25 years old,

Wish a quarter of century has made you get everything

you dreamed,

and has made you becoming wise-woman

… … …

your friend..


Sabtu, Juni 21, 2008

B 360 LO

What is in a name?! — Shakespeare’s said..


Alex. Begitulah teman-teman biasa memanggilku, baik teman-teman kuliah maupun teman-temanku nongkrong di mal. Tapi itu cuma nama panggilan, nickname. Nama asliku, nama pemberian kedua orangtuaku, tidaklah seindah nama panggilanku itu. Sejak kecil aku dipanggil dengan “Lek”, bukan “Lex”. Ya, “Lek”, atau terkadang “Kan”, karena memang nama asliku adalah Solekan. Dan nama panggilan “Alex” itu adalah hasil kreasiku sendiri.


Jujur saja aku malu dipanggil dengan nama asliku, Solekan, karena nama itu berbau desa sekali, sangat ndeso. Sudah enam tahunan ini aku punya nama panggilan Alex, tepatnya sejak aku kuliah di Jakarta. Dulu, sebelum menginjakkan kaki di ibukota negara ini, sejak masih kecil hingga tiga tahun duduk di bangku SMA, aku samasekali tak pernah merasa risih dengan nama panggilan Solekan. Nama teman-temanku di sekolah dulu adalah Parto, Tejo, Untung, Karno, dan banyak lagi nama-nama khas desa lainnya. Tapi di metropolitan ini, semenjak aku tahu bahwa nama teman-teman kuliahku semua terdengar indah dan mentereng di telinga, aku pun nekad ganti nama. Setidak-tidaknya ganti nama panggilan, ganti nickname. Sungguh, aku malu sekali harus memperkenalkan diri dengan nama Solekan, sementara teman-teman kuliahku memperkenalkan diri dengan nama Johan, Rendy, Tomy, Andre, Thomas, dan banyak nama-nama keren lainnya yang sebelumnya hanya aku tahu di sinetron-sinetron saja.


Dulu, pernah sekali waktu aku nekad memperkenalkan diri dengan nama Solekan kepada teman kuliahku yang bernama Tomy. Lantas apa katanya, coba? “Wah, tampangmu memang keren. Tapi asal tahu saja, kalau nama panggilanmu Solekan, mungkin kamu gak bakalan bisa masuk mal dan kafe. Mending kamu ganti nama aja deh, minimal ganti nama panggilanmu. Jangan bawa-bawa lagi nama udik itu. Kalau tidak, bakalan terkena sanksi sosial ntar kamu!”


Semenjak menerima kritik tajam dari Tomy itulah aku mulai minder setengah mati dengan nama pemberian orangtuaku, nama yang telah delapanbelas tahun lamanya menjadi bagian tak terpisahkan dari diriku. Teringat akan ancaman seriusnya menyangkut “sanksi sosial” yang bakal aku terima bila tetap nekad mempertahankan nama pemberian orangtua, maka aku pun ganti nama. Tadinya aku sempat punya keinginan untuk memakai nama “Jackie”, tapi aku kemudian sadar bahwa nama panggilan itu adalah milik istri mendiang John F. Kennedy, presiden Amerika yang mati ditembak oleh warganya sendiri itu.


Dua hari kemudian aku baru ingat satu hal yang merupakan salah satu ide paling cemerlang seumur hidupku. Bukankah aku selama ini dipanggil dengan nama panggilan “Lek”? Aha!! ya, kenapa tak menggunakan nama Alex saja, ya, A-L-E-X. Eureka!!!—aku girang bukan main waktu itu, persis Archimedes yang baru saja menemukan cara mengukur volume benda padat yang tak beraturan bentuknya. Ya, aku telah menemukan ide brilian, mengganti nama panggilanku menjadi “Alex”. Akan aku umumkan pada khalayak nama panggilan baruku itu. Ya, aku akan bikin pengumuman kepada semua orang agar mereka tahu ide brilian yang baru saja kugali dari dasar otakku itu.


Semenjak saat itulah, aku dengan penuh percaya diri memperkenalkan nama baruku itu kepada seluruh teman-teman kuliah dan teman-teman penghuni rumah kosku. “Kenalkan, Alex,” begitu tiap kali aku berkenalan dengan teman baru. Bahkan ketika berada di atas angkutan umum pun aku tak lupa memperkenalkan diri dengan nama baruku itu. Dan satu lagi, tak lupa pula aku umumkan kepada dosen-dosenku di kampus bahwa aku tak ingin lagi dipanggil dengan nama Solekan sebagaimana yang tertera di daftar presensi kuliah. Aku maklumatkan kepada mereka semua, nama panggilanku kini adalah: “Alex”. Ya, A-L-E-X ! Mendengar maklumat itu, dosen-dosenku hanya tersenyum geli. Dan semenjak saat itulah, nama “Solekan” lenyap bak ditelan bumi, kini yang ada dan dikenal semua orang adalah nama “Alex”. “Lex,” begitulah panggilan singkat yang diucapkan semua orang kepadaku.


* * *


Di mana pun aku berada, kepada siapa pun aku berjumpa, tak pernah lupa aku memperkenalkan diri dengan nama panggilan baruku itu. Rekan-rekan sesama karyawan di kantor bahkan tak ada yang tahu nama asliku, kecuali mereka yang duduk di bagian personalia, karena mereka tentu saja telah membaca dokumen-dokumenku saat aku melamar kerja di kantor ini. Tapi, persis dengan yang aku lakukan terhadap dosen-dosen kuliahku dulu, aku maklumatkan kepada orang-orang di bagian personalia itu bahwa nama panggilanku adalah Alex, dan aku arahkan mereka agar tidak sekali-kali memanggilku dengan nama asliku yang ndeso dan tak punya nilai jual itu. Bagaimana pun juga, nama panggilan baru itu aku reka-reka selama dua kali duapuluh empat jam, dua hari dua malam, lamanya—sebuah penemuan besar yang patut dihargai, tentunya.


Tapi inilah kisah antiklimaks, titikbalik, dari euforiaku pada nama panggilan baruku selama ini. Di sebuah pagi yang cerah, saat aku berada dalam perjalanan di atas bus Transjakarta untuk menuju kantor tempat kerjaku, kutemui seorang wanita muda belia cantik jelita di dalam bus eksklusif itu. Ia duduk persis di sampingku, di dekat pintu bagian depan. Tentu saja aku tak akan menyia-nyiakan momen ini untuk show of name kepadanya. Kepada para sopir bus Transjakarta saja aku amat antusias memperkenalkan nama panggilan baruku itu, apalagi kepada wanita jelita dari surga yang sedang duduk di sampingku ini. Tak akan aku sia-siakan.


“Kenalkan, nama saya Alex,” kuulurkan tangan kananku laiknya Sri Rama mengulurkan tangannya kepada Dewi Shinta sehabis menaklukkan si raja lalim Rahwana.


“Saya Iyem. Sepertinya saya pernah kenal Anda?” ia mengulurkan tangan kanannya yang putih mulus ditumbuhi bulu-bulu halus. Kujabat erat penuh wibawa. Tapi kemudian aku tertegun. Kalimatnya yang kedua pun seolah-olah tak pernah aku dengar di telingaku, karena kalimatnya yang pertama telah membuat kesadaranku terlempar dari atas bus Transjakarta dan jatuh berguling-guling di atas jalanraya, tertabrak mobil-mobil yang berlalu-lalang menuju tempat kerja tuannya. Aku kira namanya adalah Jinny, Nancy, Rindy, atau paling tidak: Luna atau Mitha. Iyem? Uh, aku jadi teringat kata-kata bertuah si Tomy yang telah merubah secara radikal pandanganku terhadap hakikat sebuah nama. Dan laiknya seekor burung beo, aku tirukan nyaris persis, hampir seratus persen, ucapan Tomy enam tahun lalu tatkala pertama kali aku berkenalan dengannya di bangku kuliah.


“Wah, tampangmu memang keren. Tapi asal tahu saja, kalau nama panggilanmu Iyem, mungkin kamu gak bakalan bisa masuk mal dan kafe. Mending kamu ganti nama aja deh, minimal ganti nama panggilanmu. Jangan bawa-bawa lagi nama udik itu. Kalau tidak, bakalan terkena sanksi sosial ntar kamu!” Muka wanita itu langsung merah-padam, kemudian menyeringai persis kucing-kucing yang saling berebutan sepotong ikan. Menyadari ketololanku, aku pun langsung didera rasa berdosa. Dadaku bergemuruh tak sanggup lagi menampung jantungku yang tiba-tiba saja naik berlipat-lipat frekuensi detaknya. Seketika itu pula mukaku jadi pucat pasi kehabisan darah.


Kala itu, waktu berasa melambat seperti halnya yang dirasakan para serdadu saat menghadapi hujan tembakan musuh. Sedetik rasa satu jam lamanya. Keringat berkucuran deras di sekujur tubuhku. Hingga akhirnya Iyem, wanita jelita itu, tiba-tiba membuyarkan gunung dosa yang menumpuk sesak di dadaku.


“Iyem adalah nama pemberian orangtuaku. Pantang bagiku untuk mengutak-atiknya. Harap Kau tahu, aku bahagia menyandang nama itu, tiada sedikit pun rasa malu di hatiku hanya karena sebuah nama. Bagiku, nama tak bisa dipersamakan dengan merek produk yang mesti punya nilai komersil. Nama adalah identifikasi diri, bahkan di dalamnya terkandung sebuah harapan dari kedua orangtua kita.” Oh, my God... kata-katanya yang santun, halus tanpa sebutir pun kerikil kemarahan dan kebencian di dalamnya, telah membuat jantungku kembali berdetak normal seperti semula.


“Maafkan kelancangan saya tadi. Saya terlampau bersemangat memperkenalkan nama panggilan baru hasil kreasi saya sendiri itu. Sekali lagi maaf,” aku masih belum berani memandang wajahnya. Wajahku masih tertekuk menekuri lantai bus—ekspresi khas manusia yang sedang menyesali dosa-dosanya.


“Kalau tidak keliru, sepertinya saya pernah kenal Anda?” Ia bertanya penasaran. “Eh, kalau tidak salah, kamu Solekan temanku di SD dan SMP dulu, ya ‘kan?”


“Ya ampun, jadi kamu Iyem temanku itu?!” aku melongo sejenak, lantas girang bukan kepalang. Rupanya wanita jelita di sampingku ini adalah temanku di SD dan SMP, belasan tahun silam. Tapi seketika kegembiraanku itu terinterupsi oleh ingatan lamaku terhadapnya. Dulu, sewaktu masih duduk di bangku SD dan SMP, aku sering mengolok-oloknya. Aku sering mencibir namanya yang mirip nama seorang pembantu rumahtangga di sinetron-sinetron picisan itu.


Pariyem, ya, Pariyem... Persis nama tokoh protagonis dalam kisah yang direka-reka Linus Suryadi; kisah seorang pembantu rumahtangga di kaki Merapi, yang lugu dan polos dan sempat berkali-kali ’digagahi’ majikannya itu. Oh, tapi ini Iyem yang lain; Iyem yang semoga Gusti Pengeran melindunginya dari kebinalan dan kebiadaban napsu lelaki mana pun juga...


... Oh my God, betapa tak hanya ulat saja yang sanggup bermetamorfosa. Iyem, ya, Iyem si gadis yang dulu amat lusuh seperti seragam buruh pabrik gula itu, kini telah berubah menjadi wanita jelita, sungguh, sumpah! Sekalipun cerdas, dulu Iyem memang amat lugu dan polos (ya persis si Pariyem-nya Linus itu) dan karena itu ia sering dijadikan obyek olok-olok dan sindiran siswa-siswa lelaki bengal seperti aku ini. Tapi kini, aku berani bertaruh, anak menteri pun akan ngiler melihat kecantikan paras dan tubuhnya.


* * *


Semenjak kejadian di atas bus Transjakarta itu, aku tak pernah lagi memperkenalkan diri dengan nama “Alex”. Sungguh, aku malu dengan si Iyem. Ia yang cantik jelita saja tak merasa malu harus menggunakan nama aslinya, nama pemberian orangtuanya. Semenjak saat itu, aku kembali menggunakan nama panggilanku semula. Kepada siapa pun juga, kini aku kembali memperkenalkan diri dengan nama pemberian orangtuaku, seadanya. Nama itu, nama pemberian orangtuaku, seperti kata Iyem, mengandung harapan dari sang pemberinya, yakni kedua orangtua yang telah membuat aku terlahir ke dunia ini.


Semenjak kejadian di pagi itu, nama “Solekan” kembali muncul dari perut bumi, dan nama “Alex” itu aku pendam dalam-dalam di dasar Samudera Hindia sana. Iyem, ya, gadis lusuh, lugu dan polos belasan tahun silam itu telah membalikkan secara revolusioner pandanganku terhadap hakikat sebuah nama, sebagaimana dulu Tomy juga mengubah pandanganku secara radikal terhadap hal yang sama. Iyem, kini ia bekerja sebagai tenaga administrasi di sebuah kantor milik salah satu departemen paling kaya di negeri ini. Gadis yang telah bermetamorfosa menjadi wanita jelita itu tetap saja polos dan lugu, samasekali tak neko-neko. Ia tak kehilangan citarasa kedesaannya sekalipun telah menjadi warga ibukota negara.


Ah, terimakasih Iyem untuk kejadian di pagi hari itu. Terimakasih juga untuk bus Transjakarta berplat-nomor B 360 LO yang telah menjadi saksi-bisu kisah itu, kisah revolusioner tentang hakikat sebuah nama... []


Dalam Khayalan Mendung, 22-23 Maret 2008